Sampai Bila Pun Allah Tak Akan Tinggalkan Kita..

Bismillaa Hir Rahmaa Nir Rohiim

Assalamualaikum wr. wb..

“Sampai Kapan Pun Allah tak akan meninggalkan kita” 

“Keajaiban yang sangat mengherankan adalah orang yang lari dari apa yang tak dapat terlepas darinya dan mencari apa yang tak kekal padanya“

“Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tapi yang buta ialah mata hati yang ada di dalam dada.”

Kesimpulan dasar dari kalam hikmah kali ini kurang lebihnya begini :

Aneh sekali orang yang meninggalkan Allah demi untuk mengejar dunia. Padahal Allah selalu bersamanya, sedangkan dunia meninggalkannya. Satu-satunya dzat di alam semesta ini yang tidak meninggalkan kita selama-lamanya adalah Allah SWT.

Allah yang selalu bersama kita dalam kondisi apapun. Mau Islam, kafir, fasik dan di posisi belahan bumi manapun Allah tetap bersama kita. Allah selalu bersama kita, baik saat kita di dunia, di alam kubur atau nanti di hari pembalasan. Sekalipun Allah tak meninggalkan kita. Apa maksud dari pernyataan bahwa Allah itu sampai kapanpun tetap akan bersama kita? Tentu bukan berarti Allah SWT bersama kita dalam arti fisik seperti kita bersama orang-orang tercinta di sekeliling kita.

Allah itu tidak sama dengan makhluknya dalam segi apapun. لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ (الشورى: 11)

Lantas apa maksud dari pernyataan itu? Ilmu, kuasa, pertolongan, kasih sayang dan pengampunan Allah sampai kapan pun tetap bersama kita. Semua itu tak akan pernah meninggalkan kita sampai kapanpun, bahkan meski pada orang kafir atau pada kita yang sering maksiat kepada-Nya.

Selanjutnya, apa yang dimaksud dengan sesuatu yang sudah pasti akan meninggalkan kita?

Jawabannya, segala sesuatu selain Allah SWT pasti akan meninggalkan kita. Apapun itu. Selain-Nya tak akan terus menemani kita. Pada saatnya nanti, segala sesuatu selain Allah itu sudah pasti akan meninggalkan kita. Bagaimanapun kita kuat menahannya. Mulai dari kenikmatan dunia, kekayaan, pangkat, istri, anak, status sosial, semua itu pasti akan meninggalkan kita.

Tak ada yang abadi, selain Dzat Yang Maha Suci. Dia bersama kita saat hidup dan mati. Di alam kubur dan kiamat nanti. Yang aneh adalah, kita rela meninggalkan Allah yang abadi karena sibuk mengejar kenikmatan dunia yang nisbi.

Logika dasar dari semua pernyataan ini adalah begini :

Bahwa akal dan penglihatan zahir kita tahu bahwa segala sesuatu selain Allah di awali dari kondisi tak ada kemudian menjadi ada. Hukum alam yang kita ketahui selama ini adalah bahwa segala entitas yang berawal dari kondisi tak ada kemudian ada. Suatu saat nanti pasti akan kembali pada kondisinya yang semula; yaitu kondisi tidak ada.

Alur prosesnya begini–Tidak Ada-Ada-Lemah-Kuat-Menguat-Lemah-Melemah-Tidak Ada. Awal dan akhirnya sama; yaitu tidak ada. Tumbuh-tumbuhan itu awalnya tidak ada. Kemudian ada, terus tumbuh dalam kondisi lemah, kemudian menguat, besar, menguat, kemudian mulai lemah (layu), terus melemah dan akhirnya mati/tidak ada. Siklus rotasi yang terjadi pada matahari/bulan juga begitu.

Proses hidup manusia juga begitu dan semua benda- benda yang lain juga begitu. Semuanya akan tidak ada seperti dalam kondisi semula yang memang tidak ada.

Perhatikan ayat ini:

“Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir) kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua.” (Yasin: 39)

Apa hikmah yang bisa kita ambil dari semua penjelasan yang sangat rasional ini? Hikmah yang bisa diambil adalah kita belajar bahwa segala sesuatu yang berawal dari kondisi tak ada pasti akan memiliki titik akhir. Sehingga kita tak akan tertipu dan silau dengan benda itu. Tidak menumpahkan harapan pada sesuatu yang suatu saat nanti akan hilang atau sirna.

Sejarah membuktikan, sebelum kita sudah banyak bangsa- bangsa yang hidup di dunia ini. Tapi adakah yang tetap bisa bertahan hingga kini? Tak ada!

Perhatikan ayat ini :

“Dan berilah perumpamaan kepada mereka (manusia), kehidupan dunia sebagai air hujan yang Kami turunkan dari langit, maka menjadi subur karenanya tumbuh-tumbuhan di muka bumi, kemudian tumbuh-tumbuhan itu menjadi kering yang diterbangkan oleh angin. Dan adalah Allah, Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Al-Kahfi; 45)

Juga perhatikan ayat ini :

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al-Hadid: 20)

Apabila kita sudah tahu bahwa semua benda di alam semesta ini akan meninggalkan kita sedangkan Allah tidak. maka dedikasikanlah semua perjuangan hidup ini hanya untuk Dzat Yang Maha Kekal. Dzat yang tak akan pernah meninggalkan kita. Percayalah pada pertolongan Allah. Jangan sedikitpun memiliki perasaan khawatir pada-Nya. Usahakan diri ini untuk selalu begitu. Dalam urusan rezeki percayalah bahwa Allah sudah menanggung semua kebutuhan kita. Jangan khawatir! Dia yang lebih tahu pada kebutuhan kita. Tepislah kekhawatiran yang selalu menghantui benak kita untuk tidak meyakini pertolongan Allah. Kurangilah sedikit demi sedikit kecenderungan tamak kita pada dunia. Kurangilah secara perlahan ketergantungan kita pada dunia.

Percayalah bahwa kebahagiaan yang ditawarkan oleh kenikmatan dunia adalah semu dan bertujuan untuk mengalihkan kita dari-Nya. Tetaplah bersama Allah dengan meyakini-Nya dan mengabdi kepada-Nya. Curahkan segala kekuatan untuk memperjuangkan agama-Nya.

Dengan begitu, suatu saat nanti ketika meninggalkan dunia, kita tidak akan menyesal. Di alam kubur kita akan tenang.

Tentang kehidupan dunia perhatikan ayat ini :

“Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nur: 39)

Tentang kehidupan dunia perhatikan ayat ini :

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amalan-amalan yang kekal lagi saleh adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (Al-Kahfi: 46)

Tentang kehidupan dunia perhatikan ayat ini :

“Dan apa saja yang diberikan kepada kamu, maka itu adalah kenikmatan hidup duniawi dan perhiasannya; sedang apa yang di sisi Allah adalah lebih baik dan lebih kekal. Maka apakah kamu tidak memahaminya?” (Al-Qashas: 60)

Semua ayat tadi bisa menyadarkan kegilaan kita pada dunia. Pada tawar manis kenikmatan dunia. Bahwa semua itu akan sirna. Apabila kita masih terbuai dengan segala pernak-pernik tawaran kenikmatan dunia, maka yang akan didapat adalah sengsara dan duka nestapa.

Namun meski kita diperintah untuk tidak bergantung pada dunia, bukan berarti Allah mencela apabila kita menikmati sajian dunia. Tidak begitu. Bahkan di beberapa ayat al-Quran, Allah telah membentangkan keindahan dunia untuk kita nikmati dan syukuri sebagai bentuk kasih sayang-Nya.

Ayat yang menganjurkan kita untuk mensyukuri kenikmatan dunia yang telah dianugerahkan oleh Allah.

“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. (QS. Saba’: 15)

Ayat yang menegaskan bahwa kenikmatan dunia adalah anugerah yang perlu kita syukuri 

“Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui. “(QS. Al-A’raf:32)

Yang dilarang adalah apabila mentambatkan hati kita pada kenikmatan dunia, seakan-akan kebahagiaan tak akan di dapat apabila tidak memiliki dunia. Yang dilarang adalah apabila meyakini bahwa yang memberi rizki, pertolongan dan kebahagiaan makhluk selain Allah yang bersifat sementara.

Keyakinan ini menjadi indikator ketauhidan kita. Semakin tak percaya pada dunia dan semakin percaya pada Allah berarti kita semakin bertauhid.

Ibn Athaillah menutup kalam hikmahnya dengan “Sesungguhnya bukan mata kepala yang buta, tapi yang buta ialah mata hati yang ada di dalam dada.”

Sebagai penegas bahwa apabila ada orang yang mengingkari logika yang telah dijelaskan tadi berarti ia termasuk orang yang buta mata hatinya. Boleh jadi, secara fisik ia sempurna tanpa cela, tapi mata hatinya buta tanpa lentera. Sehingga sesat dan membuat sengsara.

Wabillahi Taufik WalHidayah.. Wasssalamu A’laikum Warahma Tullah..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s