Ketika Yang DiCintai Meninggalkan Kita

Sudah menjadi sunnatullah apakah kita yang akan mendahului orang yang kita cintai, atau orang yang kita cintai yang akan mendahului kita menghadap Rabbi ilahi. Namun tidaklah terlalu penting siapa yang dahulu, apakah kita atau orang yang kita cintai, yang terpenting bagi kita adalah bagaimana kita mempersiapkan diri dan mengingatkan orang-orang yang kita cintai untuk menghadap hal tersebut.    

BAGAIMANA JIKA ORANG YANG KITA CINTAI MENDAHULUI KITA?

Hampir setiap manusia tidak menginginkan ketika harus meninggalkan orang yang kita cintai ataupun ditinggalkan oleh orang yang kita cintai. Lalu bagaiman jika ternyata kita harus mengalami hal tersebut? jika orang yang kita cintai meninggalkan kita maka cara terbaik dalam menyikapinya adalah ikhlas menerimanya dan berusaha memberikan yang terbaik (manfaat). Kita dilarang untuk meratapi orang yang kita cintai, karena bukannya akan memberikan manfaat, tapi malah akan mendatangkan mudharat dan hal itu dilarang oleh agama. Meratap adalah kebiasaan orang-orang jahiliyah zaman dahulu, ketika Rasulullah datang, Beliau melarang hal tersebut. dan  meratap orang yang meninggal adalah perbuatan dosa. 

BAGAIMANA JIKA YANG MENDAHULUI KITA ADALAH ORANG TUA KITA?

Kita harus benar-benar ikhlas dalam menyikapi hal ini, karena walaupun kita meratap dan tidak ikhlas, merekapun tidak akan bisa kembali lagi. Selain ikhlas, kita harus menunjukkan dan membuktikan kecintaan kita kepada orang tua kita, yaitu dengan terus memberikan manfaat dan  keuntungan buat mereka. 

Dalam hadist riwayat imam muslim, Rasulullah Saw bersabda: apabila mati anak adam maka terputuslah semua amalnya kecuali 3, (yaitu) shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak yang sholeh yang selalu mendoakan orang tuanya. (HR. Imam Muslim).

Pada saat orang tua kita mendahului kita, maka sebenarnya pada saat itulah kita benar-benar bisa membuktikan kecintaan kita kepada orang tua kita, apakah cinta kita kepada orang tua kita hanya sebatas dimulut saja atau memang betul-betul cinta yang tulus dan bisa dibuktikan, apakah cinta palsu atau cinta sejati, apakah cinta gombal atau cinta murni. Pada saat orang yang kita cintai telah tiadalah yang akan memperlihatkan sebesar apa kecintaan kita.

Kalau kita mencintai seseorang, pasti kita ingin selalu membahagiakan orang yang kita cintai tersebut dan pasti kita ingin memberikan yang terbaik untuk orang yang kita cintai tersebut. maka sebagai bukti kalau kita benar-benar mencintai orang tua kita, maka kita harus membahagiakan dan memberikan yang terbaik untuk orang tua kita, kita harus memberikan manfaat kepada mereka. dan ketahuilah, ternyata hanya ada satu cara untuk bisa memberikan kebahagiaan dan manfaat kepada orang tua yang telah menahului kita, yaitu dengan menjadi anak yang sholeh, Tidak ada ada cara lain yang mampu membuat mereka bahagia selain itu.

Maka kalau kita memang mengakui bahwa kita mencintai orang tua kita, maka tiada cara lain untuk membuktikannya kecuali dengan  menjadi anak yang sholeh atau sholehah. Suatu kebohongan besar ketika kita mengatakan cinta kepada orang tua, tapi ternyata kita tidak berusaha untuk menjadi anak yang sholeh/ah. Hanya cinta gombal, cinta palsu, dan cinta dibibir saja ketika kita mengatakan cinta kepada orang tua kita, tapi ternyata kita tidak berusaha menjadi anak yang sholeh/ah.

Kalau saat ini kita malas sholat maka rajinah sholat sebagai bukti kecintaan kita kepada orang tua kita, kalau selama ini kita malas tilawah Qur’an maka rajinlah tilawah Qur’an sebagai bukti kecintaan kita, kalau selama ini kita sering bermaksiat maka tinggalkanlah sebagai bukti kecintaan kita, kalau selama ini kita (untuk sauadari-saudariku muslimah) masih membuka aurat dan belum berjilbab maka berjilbablah sebagai bukti kecintaan kita kepada orang tua kita. Cinta itu butuh bukti, maka buktikanlah kecintaan kita tersebut.

Bukankah setiap cinta itu butuh pengorbanan? maka cinta kepada orang tuapun butuh pengorbanan, dan pengorbanan itu adalah sebuah pengorbanan kearah yang lebih baik. Ini adalah sebuah pengorbanan yang membawa kebahagian dan kebaikan kahirnya bagi diri kita sendiri.

Kalau selama ini kita susah untuk sholat, maka ingatlah kalau kita cinta kepada orang tua kita, kalau selama ini kita malas tilawah Qur’an maka ingatlah kalau kita cinta kepada orang tua kita, kalau saat ini kita masih terbuka auratnya dan belum berjilbab, maka ingatlah kalau kita cinta kepada orang tua kita.

Disinilah masa-masanya kita membuktikan kecintaan kita, menutup aurat dan berjilbab memang berat, tapi ini adalah konsekuensi dari kecintaan dan konsekuensi dari ketaatan dari seorang muslimah. Orangtua akan tersenyum  melihat kita menjadi anak yang sholehah, mereka akan bahagia melihat kita telah menutup aurat dan berilbab, karena ada keuntungan yang terus mengalir kepada mereka.

Menjadi anak yang sholeh/ah merupakan kebahagian baik bagi kita apalagi bagi orang tua kita, dan berubah menjadi anak yang sholeh/ah adalah suatu proses yang mutlak harus kita jalani. Berunbah menjadi baik bukan masalah apakah kita bisa atau tidak, tapi masalahnya adalah apakah kita mau atau tidak. Kalau kita mau, pasti kita bisa menjadi anak yang sholeh/ah.

Anak yang sholeh/ah adalah investasi besar bagi orang tua, walaupun ia telah tiada, namun pahala akan terus mengalir kapadanya. Orang tua yang mana yang tidak bahagia mendapat anak yang sholeh. Orang tua mana yang tidak sedih melihat anaknya tidak bisa menjadi anak yang sholeh, bukannya mnedatangkan manfaat tapi malah mendatangkan kesengsaraan bagi orang tua.

APAKAH KAMU BENAR MENCINTAI ORANG TUAMU? 

MAKA JADILAH ANAK YANG SHOLEH/AH.

Ke’Akuan

Setiap kita diberikan hidup di dunia ini walaupun pada saat yang telah disepakati setiap kita pasti akan meninggalkan dunia ini. Setiap kita diurus olehNya pagi, siang, sore dan malam walau pun boleh jadi kita pernah atau seringkali lupa kepadaNya namun tetap saja Dia terus-menerus mengurus kita tanpa pernah merasa berat, walau pun kita melupakanNya.

Setiap saat setiap waktu kita diurus olehNya tanpa merasa ngantuk, tanpa tidur, dan tiada suatu hal pun yang berlaku kepada kita tanpa izinNya. Maha dahsyatnya Kasih dan SayangNya kepada kita bahkan manusia yang lalai dariNya pun tetap diurus olehNya, kecuali mereka-mereka yang telah melampaui batas di dunia ini sehingga Dia murka dan membinasakan mereka seketika, dan hal itu sangat mudah bagiNya.

Apa pun yang di inginkan, apa pun yang dimiliki, apa pun yang di rencanakan, apa pun yang dilakukan, takkan pernah ada dan takkan pernah terjadi tanpa izin dariNya. Apa pun yang merasa dimiliki, pada hakikatnya milikiNya. Apa pun yang dilakukan dan berhasil, pada hakikatnya terjadi karena ada izin dariNya.

Bila semua kepemilikan dan semua keberhasilan selalu diawali dengan permohonan izin kepadaNya dalam berusaha memiliki dan melakukannya, maka bila terjadi, semua itu karena ada izin dariNya, maka bila dimiliki, semua itu adalah milikNya, agar tiada lagi KEAKUAN di dalam diri. Insya Allah

Sahabat yang ada di hati. Setiap kita diberikan hidup di dunia ini walaupun pada saat yang telah disepakati setiap kita pasti akan meninggalkan dunia ini. Setiap kita diurus olehNya pagi, siang, sore dan malam walau pun boleh jadi kita pernah atau seringkali lupa kepadaNya namun tetap saja Dia terus-menerus mengurus kita tanpa pernah merasa berat, walau pun kita melupakanNya. Sahabat yang ada di hati. Setiap saat setiap waktu kita diurus olehNya tanpa merasa ngantuk, tanpa tidur, dan tiada suatu hal pun yang berlaku kepada kita tanpa izinNya. Maha dahsyatnya Kasih dan SayangNya kepada kita bahkan manusia yang lalai dariNya pun tetap diurus olehNya, kecuali mereka-mereka yang telah melampaui batas di dunia ini sehingga Dia murka dan membinasakan mereka seketika, dan hal itu sangat mudah bagiNya. Sahabat yang ada di hati. Apa pun yang di inginkan, apa pun yang dimiliki, apa pun yang di rencanakan, apa pun yang dilakukan, takkan pernah ada dan takkan pernah terjadi tanpa izin dariNya. Apa pun yang merasa dimiliki, pada hakikatnya milikiNya. Apa pun yang dilakukan dan berhasil, pada hakikatnya terjadi karena ada izin dariNya. Sahabat yang ada di hati. bila semua kepemilikan dan semua keberhasilan selalu diawali dengan permohonan izin kepadaNya dalam berusaha memiliki dan melakukannya, maka bila terjadi, semua itu karena ada izin dariNya, maka bila dimiliki, semua itu adalah milikNya, agar tiada lagi KEAKUAN di dalam diri. Insya Allah..

Hidup Didunia Hanyalah Sementara

“Jangan heran jika mengalami banyak ujian di dunia, sebab engkau akan mendapat balasan yang setimpal dari cobaan-cobaan itu (kelak diakhirat)”

Hikmah ini mengajarkan kita ununtuk bersikap bijak menghadapi cobaan-cobaan yang menghadang. Bagaimana cara menghadapi masalah dengan hati lapang. Pepatah: Jika tak pernah merasakn pahitnya hidup, maka ia tak akan merasakan manisnya hidup. Untuk mencicipi manis harus cicipi pahit dulu.

Lalu apa hikmah Allah menakdir hamba-hamba-Nya dengan cobaan yang bermacam-macam? Tiap hari datang silih berganti, seakan hidup ini dikelilingi musibah-musibah? Jawabannya ada pada dua opsi berikut. 

Pertama, 

Bahwa Allah sengaja menjadikan dunia ini sebagai area khusus penggemblengan diri kita. Allah sengaja memaksa manusia agar menjalani hidupnya sesuai dengan aturan yang telah Allah tetapkan. Allah mengatur dunia sedemikian rupa. Tujuannya agar manusia terbiasa melakukan ibadah menurut usahanya sendiri. Allah senang pada keberhasilan yang dihasilkan dengan kerja keras. Maka sangat jelas, jika kehidupan di dunia ini tak akan luput dari cobaan-cobaan. Hidup di dunia ini tak akan pernah lurus se mulus jalan tol. Meski di dunia Anda orang terhormat misalnya, تكليف Allah tak akan luput menghampiri Anda. Anda tetap wajib shalat, zakat, haji dan lain-lain. Yang beda agama juga tak akan luput dari تكليف Allah. Mereka akan di uji dengan musibah-musibah berat semisal kematian, kelaparan dan lain sebagainya. Dalam QS 3:186, QS 2:155-157, QS 25:20, Allah menyebut macam-macam cobaan yang akan dibebankan pada manusia. Apakah mereka bersabar atau tidak. Intinya, siapapun kita, dimanapun saja, pasti tak akan pernah lolos dari ujian Allah, bahkan di setiap jengkal kehidupan di dunia ini.

Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.( QS 3:186)

(155) Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.

( 156 ) (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.

( 157 ) Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS 2:155-157)

Dan Kami tidak mengutus rasul-rasul sebelummu, melainkan mereka sungguh memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar. Dan kami jadikan sebahagian kamu cobaan bagi sebahagian yang lain. Maukah kamu bersabar?; dan adalah Tuhanmu maha Melihat.( QS 25:20)

Kedua,

Kita harus tahu jika kehidupan dunia ini hanya sementara. Jadi, segala macam-macam ujian di dalamnya pun juga bersifat sementara. Sebab setelah itu Allah telah menyiapkan fase berikutnya; yaitu alam akhirat. Nah, di akhirat inilah inti kehidupan sebenarnya berada. Kehidupan di dunia kedua ini akan indah jika di kehidupan pertama berhasil kita lewati secara benar sesuai ketentuan-ketentuan Allah. Maka jadikanlah kehidupan di dunia ini sebagai ladang. Ladang yang harus dirawat baik-baik, agar menuai hasil yang melimpah di kemudian hari. Namun sayangnya, banyak orang yang malah lebih suka merawat ladangnya saat mereka sudah mulai berusia tua. Ini adalah anggapan yang keliru. Orang-orang banyak yang sadar arti hidup ini justru saat usia dan fisik mereka sudah tidak produktif lagi. Sadar karena usia tinggal sejengkal. Coba Anda perhatikan para jamaah di mushalla-mushalla dan masjid-masjid, berapakah jumlah anak muda yang shalat disana? Sungguh sangat sedikit.

Jadi, jika hidup di dunia sengsara jangan galau, karena memang dunia bukan tempat yang direkomendasikan untuk bersenang-senang. Kehidupan di dunia hanya tempat cobaan dan penggemblengan. Bukan tempat bersenang-senang. Dunia adalah tempat cobaan, kekurangan, kelaparan, dan lain-lain. Solusinya –> Sabar. 

( 1 )   Maha Suci Allah Yang di tangan-Nya-lah segala kerajaan, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu,

( 2 )   Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al-Mulk: 1-2)

Jika dunia adalah tempat yang sementara. Maka akhiratlah tempat yang kekal dan abadi. Agar paham terhdap teori yang dipaparkan Ibn Athaillah ini mari kita lihat perbedaan perspektif Muslim vs Non-Muslim dalam melihat dunia.

Orang Islam yang melihat dunia dengan mata hatinya mengerti bahwa kehidupan dunia hanya sementara, penuh dengan cobaan dan tempat bersarangnya musibah. Ketika mendapat musibah dia sadar untuk tidak galau. Karena memang kehidupan dunia itu tempatnya musibah. Kalau ingin enak ya di surga. Keyakinan yang ia pegang bahwa setelah kehidupan di dunia masih ada kehidupan lain, menjadikannya tidak galau ketika dapat musibah/cobaan. Sebab, dalam keyakinannya, orang yang sabar ketika mendapat musibah akan mendapat pahala agung yang akan diterimanya nanti di akhirat. Jadi, kalau nanti ada pahala agung yang akan di dapat bagi yang sabar menghadapi musibah, ngapain galau. Buang-buang waktu saja bukan?!

Begitu juga, jika mendapat nikmat, ia sadar untuk bersyukur, karena di dunia yang semestinya menjadi tempat musibah ini dia malah dapat nikmat. Itu artinya, saat hidup di dunia ini, orang Islam yang paham pada agamanya tidak akan pernah galau, sumpek, risau, gundah, dan lain-lain. Mereka itu serba enak. Karena semua ada ketentuan-ketentuannya. Jika terkena musibah dia sabar, jika mendapat nikmat dia bersyukur.

Fokuskan saja potensi diri untuk menghadapinya, bukan malah mereduksi diri. Siap menghadapi semua kemungkinan yang buruk dari kehidupan dunia adalah sikap yang musti ditanamkan di semua hati Muslim. 

Rasul pernah bersabda, “Mengagumkan sekali perkara orang Mukmin ini. Semua perkaranya bernilai kebajikan. Ini tidak ada di selain mereka, Jika mereka dianugerahi kenikmatan bersyukur, ini kebaikan. Jika ditimpa kesengsaraan bersabar, ini juga kebaikan.” (HR. Muslim)

Mari kita bandingkan dengan bagaimana non-Muslim di dalam memandang kehidupan dunia ini. Bagi mereka, hidup di dunia ini adalah satu-satunya kehidupan. Mereka tidak percaya pada kehidupan pasca kehidupan di dunia ini. Karena itu, selama di dunia ini mereka harus bahagia. Harus menggapai segala-galanya. Tidak boleh gagal. Tidak boleh sengsara. Kehidupan di dunia ini mereka setting di atas satu arah yang wajib ada, yaitu semua keinginan wajib tercapai. Titik!

Mereka tak memiliki konsep sabar, syukur, pahala, dosa, syurga, neraka, yang diyakini seperti orang Islam. Hatinya tak dipersiapkan untuk itu. Akibatnya adalah, jika tertimpa musibah mereka stress, galau, bahkan ada yang bunuh diri. Di saat gagal, mereka tak memiliki sandaran hati. Sebaliknya, jika mereka mendapat kenikmatan/kesuksesan, merayakannya dengan membabi buta, hura-hura dan jauh dari cara yang ada dalam Islam.

Demikianlah perbedaan perspektif Muslim vs non-Muslim di dalam melihat kehidupan dunia. Keduanya jauh berbeda. Efeknya pun tak akan sama. Yang penting untuk dipahami juga, bahwa kebahagiaan di dunia itu sepenuhnya tidak diukur oleh seberapa banyak kenikmatan yang di dapat. Begitu juga, kesengsaraan hidup di dunia ini tidak diukur oleh seberapa miskin kenikmatan yang ia dapat.

Kaya-Miskin. Gagal-Sukses bukan rumus matematika yang musti dipakai di dalam mengukur sebuah kebahagiaan. Ini bukan hukum kausalitas. Begitu banyak orang kaya, terkenal, pintar, hebat, tapi justru kehidupannya tidak tenteram. Hatinya kering. Jiwanya resah. Begitu juga, begitu banyak orang yang secara dahir tidak memiliki apa-apa, miskin, tidak terkenal, biasa-biasa, tapi justru hidupnya tentram, hatinya adem. Pertanyaannya, kenapa bisa demikian? Karena kebahagiaan itu sepenuhnya ada di dalam hati. Aspek luar hanya ilusi, yang hakiki ada di dalam hati. Hatilah yang menjadi tempat cahaya Allah berdiam diri. Di hati inilah Allah melapangkan kehidupan hambanya.

Jadi, tips bagi yang ingin hidup bahagia dan tentram, bersihkan hati, damaikanlah hati dari kerasnya kehidupan dunia. Mendekatlah kpada Allah.

Semoga bermanfaat dan bersamaan dengan hidayah Allah.

Was Salamu A’laikum WaRahma Tullahi Wabarakatuhu..

Ujian – Bukti Allah Sayang Aku

Kalau ada yang mengumpamakan hidup itu ibarat sekolah, mungkin ada benarnya. Di sekolah ada guru, buku, teman-teman, belajar, ujian, nilai, dan sebagainya. Begitupun dengan hidup. Ada tuntunannya, ada ‘guru’nya, orang-orang di sekeliling, ada belajarnya, ada pula ujian dan hasilnya. Maka katakan, sekolah mana yang lebih lama waktu ujiannya dibanding waktu belajarnya?

Hitam putih jalan hidup, pahit getir warna dunia,tangis tawa rasa hati terluka atau bahagia Bersabarlah sementara, setiap duka tak abadi Semua wajah kan diuji, pada Allah kita kan kembali (Opick, Di Bawah Langit-Mu) 

Jadi, kalau di antara kita pernah mengalami ujian yang sangat berat, yang membuat kita hampir putus asa, bahkan mungkin ada yang sampai terlintas untuk membenci Tuhan, kini sedarlah, bahawa ujian berat itu tanda Allah sayang padaMu. Layaknya Nabi Ayyub as yang ditimpa penyakit bertahun-tahun, lalu ia berdoa pada Rabbnya, 

“Dan (ingatlah kisah) Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, sungguh, aku telah ditimpa penyakit, dan Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.” (QS: 21: 83) 

Harus diingat berkali-kali, setiap ujian yang menimpa manusia ada hikmah yang tersembunyi. Semua umat manusia terdedah kepada pelbagai bentuk ujian daripada Allah dan sifat sabar dapat membantu mereka menangani cabaran yang datang.

UJIAN : TANDA KASIH SAYANG ALLAH 

Sesungguhnya, dalam ujian Allah terselit nikmatNya. Mungkin kita tertanya-tanya apakah nikmatnya bila sakit, miskin, gagal, dihina dan sebagainya?

Hendaklah kita faham bahawa nikmat di sisi Allah itu terbahagi dua. Pertama, nikmat lahir. Dan kedua, nikmat batin (rohaniah). 

Nikmat lahiriah ialah sihat, selamat dan kebaikan fizikal yang lain. Manakala nikmat batiniah ialah nilai-nilai keimanan, keyakinan dan kesabaran. Dengan ujian kesusahan misalnya, barulah terbina sifat sabar. Dan sabar itu adalah separuh daripada keimanan. Ujian juga akan menghapuskan dosa dan kesalahan seseorang terhadap Allah. Nabi Isa pernah berkata, “belum dikatakan seorang itu kenal Allah, sebelum dia bergembira dengan musibah dan penyakit ke atas dirinya, kerana berharap supaya dihapuskan kesalahannya.” 

Bila kita benci dengan ujian, ertinya kita belum kenal Allah dan (kerana) tidak faham itulah cara (kaedah) Allah mengampunkan dosa kita. Bila kita gembira (terima dengan baik) ujian itu, kerana yakin bahawa yang datangkan ujian itu juga adalah Allah. Jadi, apabila kita ditimpa ujian maka berusaha dan berikhtiarlah untuk menangani ujian itu tetapi jangan sesekali lupa mencungkil hikmahnya. Oleh yang demikian, apabila diuji, terimalah dengan baik dengan mencari hikmah-hikmahnya kerana tidak ada takdir Allah yang tidak ada hikmahnya.

Ingatlah, bahawa orang soleh itu bila diuji, hikmah-hikmah ujian akan mendekatkan mereka kepada Allah. Jangan sesekali kita menjadi orang yang rugi yakni mereka yang buta daripada melihat hikmah justeru akal dan hati hanya melihat sesuatu yang selari dengan hawa nafsunya sahaja. Ingatan para hamba yang soleh kepada Allah akan bertambah dengan ujian-ujian-Nya. Mereka merasakan ujian itu satu petanda yang Allah telah memilih mereka. Mereka sentiasa berbaik sangka dengan Allah dengan cara menyedari (mencari) bahawa setiap yang berlaku samada pahit atau manis pasti ada hikmahnya. Mereka tidak melihat hanya ‘asbab’ (sebab-sebab) tetapi matahati mereka dapat menjangkau ‘musabbabil asbab’ (penyebab – Tuhan).

Hati mereka berkata: “Inilah hakikat hidup yang dipilih Allah untukku. Aku akan terus berbaik sangka kepada Allah. Dia akan mengubat, melapang dan memberi kemenangan di sebalik ujian ini. Ya, aku tidak tahu, kerana ilmuku terbatas. Tetapi kerana Allah yang Maha Penyayang telah memilih ujian ini untuk diriku maka aku yakin ilmu-Nya Maha luas. Yang pahit ini akan menjadi ubat. Yang pedih ini akan menjadi penawar. Ya, Allah tingkatkanlah imanku bagi mendepani setiap ujian dari-Mu!” Akhir sekali, renungilah sebuah hadis Nabi saw : “Sungguh indah urusan umat Islam. Apabila ia ditimpa kesulitan ia bersabar, dan apabila ia mendapat nikmat, ia bersyukur. Ujian pertama mengajari kita untuk bersabar, ujian kedua mengajari kita bersyukur. Tidak ada alasan untuk berkeluh kesah”